Nama : Dony Agung
Prakoso
Kelas : 1EB18
NPM : 22213645
Daftar Isi :
Bab.I
Pendahuluan................................................................................................1
1.1
Latar
Belakang.......................................................................................3
1.2
Pembahasan............................................................................................5
BAB I PENDAHULUAN
1.1 LATAR
BELAKANG
Bisnis Retail merupakan
keseluruhan aktivitas bisnis yang terkait dengan penjualan dan pemberian
layanan kepada masyarakat sebagai pelaku konsumen untuk pengunaan yang sifatnya
individu sebagai pribadi maupun keluarga. Keberhasilan dalam pasar Retail yang
kompetitif, pelaku Retail harus dapat menawarkan produk yang tepat, dengan
harga, waktu dan tempat yang tepat pula. Oleh karena itu, pemahaman terhadap
pelaku Retail terhadap karakteristik target pasar atau konsumen yang akan
dilayani merupakan hal yang sangat penting. Dalam operasionalnya pelaku Retail
menjalankan beberapa fungsi antara lain membantu konsumen dalam menyediakan
berbagai produk dan jasa. Menjalankan fungsi memecah maupun menambah nilai
produk, secara keseluruhan pengelola bisnis Retail membutuhkan
implementasi fungsi-fungsi manajemen secara terintegrasi baik fungsi keuangan,
pemasaran, sumberdaya manusia, maupun operasional. Sehinga pelaku Retail dapat
memahami secara penuh tentang lingkup bisnis Retailnya, cara strategi pengembangannya
dan Memanajemen bisnisnya.
Industri Retail semakin
berubah seiring dengan perubahan teknologi, perkembangan dunia usaha
serta kebutuhan konsumen. Siap atau tidak, Retail di Indonesia akan
menghadapi persaingan yang demikian sengit. Apalagi dengan semakin maraknya
Retail asing di Indonesia yang punya kekuatan merek dan dana yang “tak
terbatas”. Oleh karenanya Retail di Indonesia perlu mewaspadai atau memahami
berbagai tren yang akan terjadi pada dunia Retail di masa depan. Berikut adalah
10 hal yang bisa menentukan masa depan Retail.
Bisnis ritel makin populer
belakangan ini. Namun, dengan dibukanya keran perdagangan bebas dengan
Cina, pasar ritel lokal banyak yang gulung tikar. Bagaimana strategi yang
efektif dalam mengelola bisnis ritel sehingga tak tergerus oleh serbuan ritel
asing?.
Bisnis ritel atau bisnis
eceran adalah bisnis yang menyalurkan barang maupun jasa kepada pengguna akhir.
Segmen bisnis ritel sangat luas, mulai dari segmen bawah hingga masyarakat
kelas atas karena produk yang ditawarkan pun sangat beragam. Akan tetapi,
bisnis ritel ternyata tak semudah yang dibayangkan. Dominasi merek terkenal dan
modal yang tak terbatas serta serbuan ritel asing dapat menjadi faktor sebuah
bisnis ritel tutup buku. Berikut ini beberapa tips yang dapat dilakukan untuk
memelihara bisnis ritel yang sudah berjalan.
Orang-orang yang tertarik
untuk memulai sebuah toko
ritel perlu
memastikan bahwa mereka berada dalam posisi untuk benar-benar membuat toko
sukses. Hal ini terutama berlaku di zaman ekonomi sulit ketika banyak
perusahaan yang berjuang untuk tetap bertahan. Ada banyak hal untuk
mempertimbangkan untuk menentukan apakah suatu bisnis akan dapat
melakukannya dengan baik sekarang termasuk lokasi dan jenis usaha ritel yang
Anda tertarik untuk memulai. Namun, pertanyaan yang benar apakah atau tidak bisnis
Anda akan melakukannya dengan baik memiliki kurang untuk melakukan dengan toko
dan banyak lagi dengan Anda. Tanyakan pada diri Anda jika Anda memiliki lima
berikut harus-memiliki
kualitas untuk
menjalankan sebuah toko ritel yang sukses. Jika Anda melakukannya, Anda harus
dapat membuat pekerjaan bisnis Anda terlepas dari kesulitan ekonomi yang
dihadapi ritel saat ini.
1.3 Pembahasan
Strategi pemasaran ritel adalah pemasaran yang mengacu
kepada variabel, dimana pedagang eceran dapat mengkombinasikan menjadi jalan
alternatif sebagai suatu strategi pemasaran untuk dapat menarik konsumen.
Variabel tersebut umumnya meliputi faktor seperti : variasi barang dagangan dan
jasa yang ditawarkan, harga, iklan, promosi, dan tata ruang, desain store,
lokasi store dan merchanding (Retail marketing management, 2003). Untuk menjaga
kelangsungan hidup serta kemajuan dan keunggulan dalam bisnis eceran yang
semakin kompetitif, maka pengelola bisnis tersebut harus berupaya menerapkan
strategi berupa program bauran penjualan eceran yang diharapkan memunculkan
minat konsumen.
Komponen produk, harga, tempat, dan promosi atau lebih
dikenal dengan 4P (product, price, place, and promotion) dengan menitikberatkan
perhatian yang berbeda-beda pada keempat variabel tersebut karena tergantung
kepada sipembuat keputusan pemasarannya untuk menyesuaikan dengan
lingkungan yang cenderung berubah-ubah yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan
pelanggan dan mencapai tujuan perusahaan, dimana konsep tersebut berlaku
bagi bisnis eceran dengan penekanan pda faktor yang berlainan (McCarthy, 1993)
Prinsip dasar pada ritel modern yang terdiri dari 4 P:
a. Product (Produk)
Produk menurut Kotler and Armstrong (2001) adalah segala
sesuatu yang ditawarkan kepasar untuk diperhatikan, dimiliki, digunakan, atau
dikomsumsi yang dapat memuaskan keinginan atau kebutuhan. Menurut Porter
(1996), keunggulan suatu produk agar dapat diterima dan bertahan dipasar
ditentukan oleh ciri khas atau keunikan produk tersebut dibandingkan dengan
produk yang lain yang ada dipasar (Porter, 1996).
b. Price (Harga)
Strategi dalam penetapan harga bisa dilakukan dengan
beberapa cara, misalnya : Harga bundling, harga predatory,
harga berbasis kompetisi, harga cost plus, harga berorientasi
pasar, harga premium, harga psikologis, harga dinamis (Kotler and Armstrong,
2010). Ada tiga pihak yang menjadi dasar pertimbangan dalam penetapan harga
oleh sebuah perusahaan ritel yaitu konsumen, dirinya sendiri, dan pesaing.
§ Menurut Ma’ruf (2005) , impementasi strategi
harga antara lain : Penetapan harga secara tetap untuk periode waktu tertentu
dan harga yang ditetapkan secara variatif sesuai fluktuasi tingkat permintaan
konsumen.
§ Penetapan harga ganjil, seperti Rp. 99.000, Rp. 199.000,
Rp. 749.000
§ Leader pricing,
penetapan harga dimana profit marginnya lebih rendah daripada
tingkat yang biasa diraih bertujuan untuk menarik konsumen yang lebih banyak.
§ Penetapan harga paket, yaitu harga yang didiskon untuk
penjualan lebih dari satu unit per itemnya.
§ Harga bertingkat, ini diberlakukan untuk produk yang
mempunyai banyak model dan harga yang beragam.
c. Promotion (Promosi)
Menurut Philip Kotler (1997, p.153) proses keputusan
pembelian dipengaruhi oleh rangsangan pemasaran dan rangsangan lain. Bauran
promosi yang meliputi periklanan (advertising), penjualan pribadi (personal
selling), hubungan masyarakat (public relation) dan publisitas(publicity),
promosi penjualan (sales promotion), dan pemasaran langsung (direct
marketing) adalah bagian dari rangsangan pemasaran yang merupakan variabel
yang dapat dikontrol oleh perusahaan.
Menurut Schoell (1993, p.424), Tujuan promosi adalah
memperoleh perhatian, mendidik, mengingatkan, dan meyakinkan.
d. Place (Lokasi)
Saluran pemasaran adalah serangkaian organisasi yang
saling tergantung yang terlibat dalam proses menjadikan barang dan jasa siap
digunakan atau dikomsumsi (Kotler, 2002). Menurut Losch, Lokasi penjualan
sangat berpengaruh lokasi penjual sangat berpengaruh terhadap jumlah konsumen
yang dapat digarapnya. Makin jauh dari tempat penjual, konsumen makin malas
membeli karena biaya transportasi untuk mendatangi tempat penjual semakin
mahal. Losch cenderung menyarankan agar lokasi produksi berada dipasar atau
dekat dengan pasar.
Lokasi adalah faktor terpenting dalam pemasaran ritel.
Pada lokasi yang tepat, sebuah gerai akan lebih sukses dibandingkan
gerai lainnya yang berlokasi kurang strategis,
meskipun keduanya menjual produk yang sama dengan pramuniaga yang sama
terampilnya dan mempunyai citra toko yang bagus.
Startegi pemasaran yang baik juga harus didukung dengan
kualitas pelayan yang baik. Menurut Christopher H. Lovelock et.al (1996)
menyatakan bahwa kualitas pelayanan merupakan bentuk pelayanan yang harus
disesuaikan dengan harapan dan kepuasan konsumen didalam memenuhi kebutuhan dan
keinginan mereka. Salah satu cara perusahaan untuk tetap dapat unggul bersaing
dengan memberikan pelayanan dengan kualitas yang lebih tinggi dari pesaingnya
secara konsisten. Harapan konsumen dibentuk oleh pengalaman masa lalunya,
pembicaraan dari mulut kemulut serta promosi yang dilakukan kemudian
dibandingkannya. Menurut Payne (2000) membentuk model kualitas pelayanan yang
menyoroti syarat-syarat utama memberikan kuliatas pelayanan diantaranya adalah
:
§ Kesenjangan antara harapan konsumen dengan persepsi
management
§ Kesenjangan antara persepsi management terhadap harapan
konsumen dengan spesifikasi terhadap kualitas pelayanan.
§ Kesenjangan antara spesifikasi kualitas pelayanan dan
penyampaian pelayanan.
§ Kesenjangan antara pelayanan yang dirasakan dan pelayanan
yang diharapkan.
Menurut Zeithaml and Bitner (2003), kualitas pelayanan
mencerminkan evaluasi persepsi konsumen tentang elemen-elemen jasa (kualitas
interaksi, kualitas lingkungan fisik, dan kualitas hasil), kemudian
elemen-elemen jasa akan dievaluasi berdasarkan dimensi kualitas pelayanan yang
spesifik, antara lain : kehandalan, daya tangkap, jaminan, kemudahan dalam
melakukan hubungan, dan bukti langsung.
