Kelas : 2EB26
Npm : 22213645
EKONOMI
INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM DAN REALITAS
A)
EKONOMI
INDONESIA DALAM PERSPEKTIF HUKUM
Seperti
yang tercantum dalam UUD 1945 Pasal 33 ayat 1-5 yang mengatur tentang
pengertian perekonomian, pemanfaatan SDA, dan prinsip perekonomian nasional.
Ayat 1 : “ Perekonomian yang disusun sebagai usaha
bersama berdasar atas azas kekeluargaan” .
Ayat 2 : “ Cabang-cabang produksi yang penting bagi
Negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak dikuasai oleh Negara”
Ayat 3 : “ Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung
didalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan untuk sebesar-besarnya
kemakmuran rakyat”
Ayat 4 : “ Perekonomian nasional diselenggarakan berdasar
atas demokrasi ekonomi dengan prinsip kebersamaan, efisiensi berkeadilan,
berkelanjutan, berwawasan lingkungan, kemandirian serta dengan menjaga
keseimbangan kemajuan dan kesatuan ekonomi nasional”
Ayat 5 : “ Ketentuan lebih lanjut mengenai pelaksanaan
Pasal ini diatur dalam undang-undang”
Sehingga dapat disimpulkan, secara tegas Pasal 33 UUD
1945 melarang adanya penguasaan sumber daya alam ditangan perorangan atau
pihak-pihak tertentu. Pernyataan dalam
UUD’45 ini secara jelas dan dengan resmi menetapkan bahwa pembangunan ekonomi
harus demi untuk kesejahteraan rakyat. Dengan kata lain monopoli,
oligopolimaupun praktek kartel dalam bidang pengelolaan sumber daya alam
dianggap bertentangan dengan prinsip Pasal 33 UUD 1945.
B)
EKONOMI
DALAM KONDISI REALITAS
Terpuruk di tahun 1998 ekonomi Indonesia mengalami masa
dimana titik kestabilan ekonomi Indonesia mencapai titik terendah. Krisis
moneter yang menghantam hampir di semua negara asia pasifik menyebabkan
kestabilan ekonomi dunia sedikit terganggu. Indonesia merupakan salah satu
negara yang mengalami dampak sangat parah pada bidang ekonominya.
Pertumbuhan ekonomi selama satu dasawarsa terakhir
ternyata hanya menyisakan ketimpangan ekonomi yang begitu tajam. Fundamental
ekonomi Indonesia dinilainya makin rapuh. Sehingga pada akhir pemerintahan SBY
basis ekonomi yang berorientasi pada broad-based economy yang memprioritaskan
pada komoditas ekspor ternyata tidak mampu memberikan surplus ekonomi.
Dengan lahirnya globalisme, Indonesia dipaksa untuk
terjun ke dalam perdagangan bebas akibatnya pasar tradisional pun terancam
dikarenakan banyaknya perusahaan asing yang mendirikan swalayan-swalayan
ternama sehingga masyarakat lebih tertarik untuk pergi ke swalayan tersebut
dibandingan pasar tradisional yang sudah ada sekian lamanya.
Tetapi bukan Indonesia namanya jika tidak ada ketimpangan
sosial karena hasil dari sistem ekonomi yang bobrok. Lihat bagaimana sistem
yang dipakai sekarang, kalau dulu kita dikenalkan dalam sejarah bahwa Indonesia
dalam melakukan perdagangan melakukan barter, namun sekarang, semua itu
tergantikan oleh sistem perdagangan yang menjual negara demi uang.
2010 menjadi tahun yang penting bagi Indonesia.
Terpilihnya presiden baru, menandakan era baru dalam pemerintahan Indonesia.
Keberhasilan Indonesia lepas dari jeratan krisis financial global, hingga mampu
menjadi satu dari dua negara Asia yang mencatatkan pertumbuhan ekonomi positif
di tahun 2009, membangkitkan optimisme di awal tahun 2010. Optimisme
perekonomian ini yang sepatutnya dipertahankan oleh pemerintahan SBY dan
menjadi landasan pembangunan di tahun 2010.
Secara umum, perekonomian Indonesia pada tahun 2010
menunjukkan prestasi yang cukup baik. Sebagai negara yang mampu mencapai
pertumbuhan positif selama masa krisis finansial global, Indonesia semakin
mendapat kepercayaan di mata dunia Internasional. Hal ini terbukti dari
meningkatnya peringkat Indonesia pada Global Competitiveness Index 2010-2011
yang dikeluarkan oleh World Economic Forum. Indonesia berhasil meraih peringkat
44, naik 10 peringkat dibandingkan pada tahun 2009. Peringkat layak investasi
Indonesia menurut S&P juga mengalami peningkatan dari BB menjadi BBB.
Kenaikan peringkat layak investasi ini menunjukkan semakin dipercayanya pasar
modal Indonesia di mata global.
Indikator makroekonomi Indonesia selama tahun 2010
menunjukkan adanya perbaikan perekonomian Indonesia. Pertumbuhan ekonomi
Indonesia berhasil melaju pada tingkat 6,1%, sedangkan tingkat inflasi hingga
November berhasil ditahan pada level 6,33% (yoy). Hal ini didukung oleh
rendahnya tingkat suku bunga BI yang dipertahankan pada level 6,5%. Rendahnya
tingkat suku bunga acuan ini menyebabkan sektor kredit mengalami peningkatan
tajam sehingga sukses memompa pertumbuhan ekonomi. Hal ini terlihat dari
meningkatnya pertumbuhan kredit yang hingga bulan oktober mencapai 19,3% (yoy).
Indonesia juga mengambil keuntungan dari krisis ekonomi
yang dialami oleh negara-negara uni eropa. Krisis tersebut menyebabkan adanya
perpindahan aliran dana ke emerging market seperti Indonesia. Menurut data
World Bank, total dana global yang hijrah ke emerging market hingga bulan
oktober mencapai US$ 403 Miliar. Wajar apabila, ada sebagian dari dana global
tersebut (US$ 15,7 miliar pada tiga triwulan pertama) yang mampir membanjiri
pasar modal Indonesia. Banjir bandang dana global ini sukses mendongkrang IHSG
mencapai di atas 3700. Diperkirakan akan terus meningkat pada tahun depan.
Melonjaknya IHSG ini dikhawatirkan akan menyebabkan kerentanan apabila terjadi
capital flight dari dana-dana asing tersebut. Kekhwatiran ini coba di atasi
oleh pemerintah dengan terus mengkokohkan cadangan devisa. Hingga akhir
November, cadangan devisa Indonesia sukses menembus angka US$ 92,759 Miliar atau
sebesar 6,96 bulan impor dan pembayaran ULN pemerintah (BI, 2010). Dengan
besarnya cadangan devisa yang dipunya oleh Indonesia, nampaknya perekonomian
Indonesia masih akan stabil hingga tahun depan.
Menurut Gareth Leather pengamat ekonomi untuk kawasan Asia dari Capital Ekonomics,
investasi hanya tumbuh 4,0 persen pada kuartal ke tiga 2014, turun disbanding
kuartal sebelumnya yang tercatat 5,0 persen, dan dari rata-rata investasi yang
tumbuh 8,5 persen dalam satu decade terakhir. Lingkungan bisnis yang tidak
pasti telah membuat investor asing maupun domestik mundur. Bukan hanya itu,
tingginya suku bunga juga menjadi factor investasi menjadi mandek.
Daftar
Pustaka:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar